Jumat, 08 November 2019

Penyaluran Bahan Baku Biodiesel 20 Dinilai Masih Lambat

Penyaluran Bahan Baku Biodiesel 20 Dipandang Masih Lambat

, Jakarta - Kementerian Koordinator bagian Perekonomian meneror akan mengaplikasikan denda pada Tubuh Usaha (BU) Bahan Bakar Nabati (BBN) serta BU Bahan Bakar Minyak (BBM), atau faksi yang lain bila dapat dibuktikan menghalangi pendistribusian Biodiesel 20 % (B20).

Menko Perekonomian, Darmin Nasution, pastikan faksinya tetap menilai dengan periodik aplikasi kebijaksanaan itu semenjak awal aplikasinya. ""Kita percepat (realisasi kebijaksanaan) dendanya agar tidak dipandang gampang terus,"" kata Darmin di Jakarta, Rabu 26 September 2018.

Menurutnya, suplai bahan baku pengerjaan B-20, yaitu Fatty Acid Methyl Esters (FAME) pada distributor seperti PT Pertamina (persero), masih minim. ""Maximum dalam dua minggu ini, kami ingin memutuskan, siapa yang akan terkena denda, (apa) BU BBM atau BU BBN yang kelapa sawit,"" katanya.

Pemerintah mengamati pelebaran pemakaian B-20 dengan ketat. Proses denda juga diperkirakan melalui Ketentuan Menteri Daya serta Sumber Daya Mineral Nomor 41 Tahun 2018 mengenai Penyediaan serta Pendayagunaan Bahan Bakar Nabati Type Biodiesel Dalam Kerangka Pembiayaan Oleh Tubuh Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit, yang keluar di akhir bulan kemarin.

Denda sebesar Rp 6 ribu per liter volume BBN type Biodiesel bisa menjadi hantaman untuk tubuh usaha yang tidak jalankan mandatori pencampuran BBN serta solar. Pencabutan izin dapat dikerjakan selesai 3x usaha peringatan. Pemeriksaan dijalani Direktorat Jenderal Daya Baru Terbarukan serta Konservasi Daya Kementerian lewat silent audit pada penyuplai BBM public service obligation (PSO), bidang transportasi non PSO, pertambangan, sampai ketenagalistrikan.

Direktur Logistik, Suplai Chain, serta Infrastruktur Pertamina, Gandhi Sriwidodo, menjelaskan lemahnya suplai bahan baku B20 waktu berjumpa Dewan Perwakilan Rakyat, tempo hari. Pengiriman FAME ke Pertamina katanya, baru sampai 62 % dari jumlahnya yang direncanakan pada bulan ini.

""Realisasi penerimaan itu baru 224,6 ribu kiloliter (KL), ada seputar 100 beberapa ribu KL belum kami terima,"" katanya.

Pada 17 hari pertama semenjak hari pertama pelebaran B20, cuma 135 ribu KL FAME yang diterima Pertamina, jauh dari gagasan 359.734 KL. Suplai FAME ke sejumlah terminal BBM (TBBM) Pertamina di beberapa lokasi seperti Kupang, Tanjung Uban, Bau-Bau, serta Makssar juga dipandang lambat.

""Ya, tetapi paling permasalahan kapal pengangkut atau cuaca, lalu berkaitan waktu produksi (FAME),"" tuturnya.

Gandhi sempat menyarankan supaya FAME untuk PSO serta non-PSO dipasok oleh satu faksi saja. ""Dapat memudahkan administrasi serta operasional penumpukan, pencampuran, serta pendistribusian FAME di tempat Pertamina,"" katanya.

Perlu untuk diketahui jika Pertamina mempunyai 60 TBBM penerima stock FAME. Sekitar 45 unit salah satunya dipasok langsung dari TBBM penting yang ada di tujuh tempat strategis.

Mengenai Ketua Harian Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi), Paulus Tjakrawan, menjelaskan pendistribusian biodiesel berkesan lambat karena waktu peralihan kebijaksanaan. Penyuplai bahan baku, katanya, harus sesuaikan semua segi distribusi, seperti kapal serta rute pengiriman.

""Persoalan setiap daerah berlainan, tetapi kami berharap dapat maksimal,"" tuturnya pada Tempo.

"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar